Senin, 14 Desember 2015

KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI



Rangkuman Kepemimpinan dan Budaya Organisasi
Budaya organisasi adalah cara orang melakukan sesuatu dalam organisasi. Budaya organisasi merupakan satuan norma yang terdiri dari keyakinan, sikap, core value, dan pola perilaku yang dilakukan orang dalam organisasi. Keyakinan  bersama,  core  value  dan  pola  perilaku memengaruhi kinerja organisasi. Keyakinan adalah semua asumsi dan persepsi tentang sesuatu, orang dan organisasi secara keseluruhan, dan diterima sebagai sesuatu yang benar dan sah. Core value  adalah nilai-nilai dominan yang diterima di seluruh organisasi, sedangkan pola perilaku adalah cara orang bertindak terhadap orang lainnya.
Suatu organisasi dengan keyakinan atas potensi orangnya dan core values atas  penghargaan  akan  mempunyai  pola  perilaku  yang  diinginkan  dalam memperlakukan orang dengan baik. Budaya organisasi menunjukkan suatu karakteristik tertentu.
Robbins (2007), memberikan 7 karakteristik budaya sebagai berikut :
  1. Inovasi dan keberanian mengambil resiko yaitu sejauh mana karyawan diharapkan didorong untuk bersikap inovtif dan berani mengambil resiko.
  2. Perhatian terhadap detail yaitu sejauh mana karyawan diharapkan menjalankan presisi, analisis, dan perhatian pada hal-hal detil.
  3. Berorientasi pada hasil yaitu sejauh mana manajemen berfokus lebih pada hasil ketimbang teknik atau proses yang digunakan untuk mencapai hasil terseb
  4. Berorientasi kepada manusia yaitu sejauh mana keputusan-keputusan manajemen mempertimbangkan efek dari hasil tersebut atas orang yang ada di dalam organisasi.
  5. Berorientasi pada tim yaitu sejauh mana kegiatan-kegiatan kerja diorganisasi pada tim ketimbang individu-individu.
  6. Agresivitas yaitu sejauh mana orang bersikap agresif dan kompetitif ketimbang santai.
  7. Stabilitas yaitu sejauh mana kegiatan-kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya status quo dalam perbandingannya dengan pertumbuhan.
Fungsi Budaya Organisasi
Menurut Robbins (1996:294), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :
·         Budaya menciptakan perbedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain
·         Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi
·         Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas dari pada kepentingan diri individual seseorang
·         Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan
·         Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan
Budaya Organisasi Yang Kuat
Menurut S.P Robbins (1997) budaya organisasi kuat adalah budaya dimana nilai-nilai inti organisasi dipengang secara intensif dan dianut bersama secara meluas anggota organisasi. Faktor yang mempengaruhi dan menentukan kekuatan budaya organisasi yang kuat adalah Kebersamaan dan Intensitas
Budaya organisasi dikatakan kuat apabila :
a.       Anggota-anggota organisasi loyal terhadap organisasi
b.      Pedoman bertingkah laku orang-orang didalam perusahaan atau organisasi digariskan dengan jelas, dimengerti, dipatuhi dan dilaksanakan oleh orang-orang didalam perusahaan atau organisasi sehingga orang-orang yang bekerja menjadi sangat kohesif
c.       Nilai-nilai yang dianut organisasi tidak hanya berhenti pada slogan tetapi dihayati dan dinyatakan dalam tingkah laku sehari-hari secara konsisten oleh orang-orang yang berkerja pada organisasi
d.      Organisasi memberikan tempat khusus kepada pahlawan-pahlawan organisasi dan secara sistematis menciptkan bermacam-macam tingkat pahlawan
e.       Dijumpai banyak ritual, mulai dari ritual sederhana hingga yang mewah
f.       Memiliki jaringan kulturan yang menampung cerita-cerita kehebatan para pahlawannya
Proses penciptaan budaya organisasi terjadi dalam tiga cara :
1.      Pendiri hanya merekrut dan mempetahankan anggota-anggota yang se-idiologi, sepikiran dan seperasaan dengan mereka.
2.      Pendiri mensosialisasikan, menanamkan serta meng- indoktrinasi seluruh anggota organisasi mengenai cara berfikir dan prilaku mereka.
3.       Perilaku pendiri bertindak sebagai model bagi perilaku seluruh anggota dan bertindak sebagai pendorong bagi seluruh anggota untuk mengidentifikasi dan akhirnya dapat menginternalisasi keyakinan, nilai dan asumsi dari pendiri tersebut. Apabila organisasi mencapai keberhasilan dan kesuksesan, visi dari para pendiri tersebut dijadikan sebagai acuan dan faktor utama dari keberhasilan dan  kesuksesan tersebut sehingga seluruh pemikiran, perilaku dan kepribadian pendiri melekat dalam budaya organisasi.
Kepemimpinan berdasarkan nilai
Pemimpin yang paham berorganisasi pasti akan menata sistem dan nilai kerja organisasi yang selaras dengan semua rencana dan arah tujuan yang ada. Sebab, dia memahami bahwa untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan rencana, maka dia harus menyelaraskan semua misi, visi, dan nilai ke dalam sebuah tindakan yang didukung oleh sistem yang selaras dengan tujuan organisasi tersebut. Dengan model kepemimpinan berbasis sistem dan nilai, nantinya sebuah organisasi dapat berjalan bukan berdasarkan atau tidak terletak pada komando dari orang yang duduk di puncak perusahaan. Nilai kepemimpinan, justru terletak pada sistem yang dipahami setiap orang yang berada di dalam sebuah organisasi.
Karena itulah Leaders, Sistem dan Nilai merupakan landasan terpenting dalam mewujudkan sebuah misi menjadi realitas yang bermanfaat buat keberhasilan organisasi. Sudah menjadi tugas dari seorang pemimpin untuk selalu memahami realitas dan menjawabnya dengan penyesuaian dan perbaikan terhadap sistem dan kultur yang sudah tidak selaras dengan tantangan hari ini. Tetapi semua itu memerlukan kecerdasan, keberanian, kepercayaan diri, dan niat tulus dari pemimpin. Tidak ada yang tidak mungkin kita kerjakan dengan sempurna, bila saja kita mau selalu bekerja dengan menata dan merawat sistem dan kultur kerja yang sesuai dengan tuntutan zaman. Pemimpin itu adalah mata hati yang harus menggunakan semua sikap positifnya untuk menciptakan segala kebaikan buat semua orang. Dan, untuk itu pemimpin harus memiliki kecerdasan total dalam menjadikan sistem dan nilai kerja organisasi terefektif sebagai kaki dan tangan dalam menggerakan semua aspek kepentingan organisasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar